Blog

Bagaimana Keadaan Dunia Setelah Coronavirus?

Hari ini terhitung sudah hari ke 59 sejak pertama kali kami dirumahkan oleh perusahaan karena wabah Covid-19 (Coronavirus). Beruntungnya, kami dirumahkan untuk Work From Home, bukan karena PHK.

Sebagai karyawan kantoran yang sehari-harinya memang ngantor, Work From Home ini butuh penyesuaian juga. Tapi bagaimanapun layak banget disyukuri, karena itu artinya saya tetap bisa kerja dengan aman di rumah, dibanding mereka yang tetap harus bekerja di luar rumah karena gak punya pilihan lain, atau malah jadi gak punya kerjaan sama sekali.

Jadi buat teman-teman yang bisa Work From Home, plis jangan ngeluh deh ya. Malu, tauk!

Praktis selama Work From Home, hanya 3 kali saya keluar rumah. ketiga-tiganya cuma karena harus belanja kebutuhan rumah tangga saja di swalayan. Karena rumah saya ada di Kabupaten Gowa dan terhitung sudah di luar kota, maka belanja ke swalayan di Kota Makassar hitungannya sudah lintas kota. Semacam plesir gitu kali yah, hahaha.

Covid-19 Agent of Change Sesungguhnya

Satu hal yang paling saya notice selama pandemi Covid-19 ini adalah perubahan perilaku manusia yang semakin go digital. Mau gak mau, suka gak suka, orang-orang makin melek dengan internet. Dari yang tadinya gak tau, atau enggak mau tau, sekarang jadi tau.

Orang-orang, setidaknya yang di sekitar saya, makin lincah mengakses berita-berita online. Grup-grup whatsapp non-kerjaan (seperti grup kompleks rumah, atau grup keluarga) dari yang tadinya cuma bahas masalah kerja bakti, berbagi foto-foto kenangan para sepuh, sekarang jadi sering bahas berita. Berita apapun, pasti dibahas. Apa lagi terkait Covid-19 ini. Sebagian warga membahas berita hoax, sebagian lagi menimpali dengan klarifikasi. Ada yang suka posting berita konspirasi, ada yang merespon dengan counter-logic. Meskipun kelihatannya kebiasaan baca berita hoax ini berbahaya, tapi selama masih ada yang mau membahas, maka menurut saya sih tidak berbahaya. Karena dengan begitu masyarakat justru akan teredukasi bahwa tidak semua berita yang mereka baca dan dengar itu 100% benar. Selalu ada peluang untuk di-double check.

Kompleks tempat tinggal saya juga jadi go digital soal keamanan. Kalau dulu pengamanannya full manual dengan ronda bergiliran (iya sumpah, saya aja kebagian jadwal ronda loh) sekarang sudah manfaatin internet. Ada IP Cam yang dipasang di beberapa titik strategis, yang bisa diakses langsung oleh petugas keamanan dan orang-orang yang diberi akses. Ada repeater wifi di tengah kompleks, ada alarm bersensor, dan ada perangkat IoT sederhana berupa lampu dengan switch-over-wifi yang terpasang di portal depan. Udah lumayan banget untuk kompleks di kampung yang jauh dari kota.

Yang paling hype adalah kebiasaan belanja online. Udah gak terhitung lagi berapa banyak paket kiriman milik warga yang tiap hari menumpuk di pos portal depan kompleks (karena kurir emang belum boleh masuk kompleks). Padahal mungkin sebelum pandemi ini, mengakses aplikasi belanja online aja mungkin orang masih males dengan alasan nggak ngerti caranya, ribet, atau alasan-alasan lain.

Pandemi Covid-19 ini mengubah kebiasaan manusia menjadi lebih melek digital hanya dalam 2 bulan.

Dunia Mungkin Tidak Pernah Sama Lagi, Tapi Mungkin Lebih Baik

Sekertaris General UN, Antonio Guterres menulis di New York Times.

The Covid-19 pandemic is the biggest test the world has faced since World War II.

Pandemic Covid-19 ini, kata Guterres adalah ujian terberat yang pernah terjadi di dunia setelah perang dunia II. Dan sebagaimana yang kita saksikan setelahnya, dunia menjadi tidak sama lagi.

Setelah pandemi ini berakhir, apa yang dulu kita alami mungkin sudah gak bakal sama seperti dulu lagi. Banyak skeptisme tentang bagaimana masa depan kita selanjutnya. Jumlah pengagguran, lapangan kerja, tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjun bebas sampai cara kita berinteraksi mungkin akan jauh berbeda. Tapi kalo kita coba lihat dari sisi lain, selalu ada sisi positif yang bisa bikin kita senyum.

Edukasi misalnya, yang sejauh ini jadi area cukup terdampak gara-gara Covid-19 ini, justru jadi salah satu yang paling berinovasi sejauh ini. Sebelum pandemi, jumlah anak-anak putus sekolah memang sudah tinggi, solusi buat mereka belum banyak yang cukup applicable. Tapi dengan pandemi ini, solusi edukasi makin banyak dan langsung teruji implementasinya. Mungkin malah bisa menyelesaikan problem masa lalu yang belum ketemu sampe sekarang.

Isu perubahan iklim, di mana bumi diklaim tersiksa oleh polusi dan pemanasan global, sekarang hampir tersolusikan. Tau dong Jakarta dengan polusinya kayak gimana, belakangan teman saya ada yang sering sharing foto-foto langit Jakarta yang lebih indah. Kemudian pegunungan Himalaya yang nggak pernah nampak oleh orang-orang Punjab selama satu generasi terakhir, sekarang mereka shock karena bisa ngeliat pegunungan ini dengan kasat mata dari Punjab, negara bagian di India yang jaraknya sekitar 200 km dari Himalaya. Polusi menghilang!

Dunia kerja kantoran juga bisa berubah, khususnya yang memang masih ngantor secara konvensional. PNS, karyawan swasta, sampai para anggota dewan bisa makin mudah bekerja dari mana saja, gak harus hadir secara fisik di kantor. Meeting juga cukup secara virtual. Bisa kan? bisa dong.. terbukti dalam dua bulan ini pekerjaan kantoran tetap bisa jalan. Meskipun sekarang butuh sedikit penyesuaian, cepat atau lambat perusahaan akan menyadari berapa Milyar rupiah biaya sewa kantor yang bisa dihemat. Berapa Triliun anggaran negara dengan dalih renovasi gedung ini-itu yang bisa diselamatkan. Ketika bekerja tetap bisa jarak jauh, keberadaan kantor fisik jadi kurang relevan. Cost saving!

Infrastruktur digital dan perangkat pendukungnya akan semakin berkembang. Penggunaan big data dan IoT makin penting. Interaksi tanpa sentuh (contactless interface) mungkin jadi salah satu teknologi paling berkembang setelah pandemi ini. Keluar-masuk lift gak usah pencet-pencet tombol lagi, bayar belanjaan gak usah pegang duit lagi, perangkat pengenal gestur dan wajah bisa jadi makin mudah kita dapati di mana-mana.

Perubahan lain bisa juga terjadi di dunia medis. Sudah kenal telemedicine? Di masa pandemi ini yang lagi trend ‘halodoc’. Konsultasi medis dengan dokter gak harus datang ke rumah sakit atau tempat praktik dokter. Gak perlu lagi kena macet di jalan, gak perlu lagi ngantri di tempat praktik. Pengembangan obat-obatan juga makin canggih dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (aritificial intelligence) sebagaimana proses pembuatan vaksin Coronavirus yang sedang dikembangkan sekarang.

Perubahan gak kasat mata lebih banyak lagi. Gak terhitung berapa di antara kita yang jadi semakin aware dengan kebersihan, kesehatan dan olahraga. Positif banget gak sih? Belum lagi perilaku moral positif yang terus kita saksikan di mana-mana, misalnya banyak yang diuji dengan kesulitan sehingga makin terlatih untuk bersabar sebagaimana banyak juga yang dapat rezeki berlimpah sehingga semakin terbiasa untuk bersyukur dan berbagi. Perilaku bersabar, bersyukur dan berbagi ini sangat masiv terjadi di masa pandemi ini, dan semoga menjadi kebiasaan kita di masa depan.

See? Even in a bad situation, there’s always a positive side. Even if you can’t see it yet.

Setelah pandemi ini, dunia mungkin tidak pernah sama lagi, tapi mungkin lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *