Blog

Februari Saatnya Putus Cinta

Entah kenapa Februari itu selalu diidentikkan dengan bulan kasih sayang, yang mana salah satu harinya menjadi hari paling kontroversial sejagad raya, yaitu Valentine. Banyak yang pro, tapi gak sedikit juga yang kontra. Orang-orang yang punya pasangan dan sedang kasmaran, mereka biasanya adalah orang-orang yang pro Valentine. Sementara di barisan depan kelompok kontra Valentine, berdiri para jomblo dan barisan patah hati.

Saya gak mau membahas sejarah valentine atau pro-kontranya, karena membahas sejarah dan pro-kontra itu hanya dilakukan oleh orang-orang di acara Lawyers Club. Orang yang menonton acara mereka akan terbakar emosi, sementara mereka selepas acara akan saling tertawa dan tukar menukar ‘lahan garapan’ baru.

Ngomongin bulan kasih sayang nih, saya tetap percaya bahwa orang yang sedang jatuh cinta cenderung melankolis. Mereka bisa dengan mudah membuat puisi romantis hanya karena melihat lalat kejar-kejaran, atau kalimat-kalimat yang menurut mereka menarik padahal sebenarnya lebay. Yang paling sering, mereka bisa melihat segala sesuatu dengan perspektif yang tidak tepat sasaran. Contoh:

“Gila, ya. Banjir tahun ini besar banget. Motor saya sampe rusak terendam.”

“Bro, gini yah, banjir itu adalah kiriman Tuhan. Dan semua yang diberi olehNya serba indah. Seindah Hawa yang ditakdirkan untuk Adam.”

Antara motor terendam dan Adam Hawa tidak ada relevansi sama sekali.

Atau seperti ini :

“Bro, pinjam motor yak. Biasa, mau nge-date. Sumpah gak berani bayangin apa yang terjadi kalau sampe saya terlambat. Pernah nonton Romeo Juliet, kan? Gara-gara Romeo gak tiba tepat waktu, Juliet nekat, terus minum racun bro. Akhirnya Romeo juga ikutan minum racun. Tragis, bro.”

Menjual nama Romeo, Juliet dan racun di hampir setiap kesempatan.

Nah, kata orang, jatuh cinta itu bisa bikin perasaan berjuta rasa. Sebaliknya, putus cinta bisa bikin orang mati rasa. Sebenarnya itu salah. Justru ketika kita putus cinta lah perasaan berjuta rasa itu datang.

Misalnya, rasa pengin mati.

Tapi nih, saya punya beberapa orang teman yang dulu mengaku pernah jatuh cinta lalu berakhir dengan putus cinta. Sebagian besar dari mereka akan menganggap diri mereka sebagai orang paling menyedihkan sejagat raya. Tapi setelah putus cinta, mereka tiba-tiba sadar kalau logika mereka telah kembali. Mereka menjadi manusia normal kembali, senormal Romeo yang gak jadi minum racun.

Orang yang baru saja putus cinta bisa tiba-tiba sadar betapa jauhnya jarak tempuh mereka setiap hari: kantor – jemput di kampus – ngantar ke salon – mall – ke salon lagi – warung makan – SPBU – baru ke rumah. Mereka juga akan mengerti betapa berharganya waktu senggang sepanjang hari tanpa gangguan. Konsumsi pulsa telepon jauh lebih hemat. Mereka tidak canggung lagi dengan penampilan, bau badan, baju kumal atau kaos kaki bolong. Orang-orang seperti ini kembali menjadi diri mereka sendiri.

Orang yang putus cinta juga cenderung akan melakukan hal-hal yang mulia. Di saat orang yang jatuh cinta sibuk dengan rencana bulan Februari, mereka yang putus cinta akan memilih menyelesaikan skripsi atau membantu Ibu menyapu halaman rumah. Saat orang yang jatuh cinta sibuk memesan sekotak cokelat untuk diberi ke pasangannya, mereka yang putus cinta akan mengalokasikan uang sakunya untuk disedekahkan ke celengan masjid. Saat sepasang orang jatuh cinta sedang berbagi makanan sepiring berdua, mereka yang putus cinta bisa beli durian besar dan dimakan sendirian sampai puas.

Anda akan menjadi orang yang normal setelah putus cinta. Jadi, putus cinta lah.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *