Blog, Family, Kopi

I’m Telecom Engineer. I Have No Life

Sarwed adalah pekerja jaringan telekomunikasi yang sedang bekerja sebagai karyawan sebuah operator di Singapura dan mencoba menghabiskan akhir pekannya di Manado. Sebagai sesama Telecom Engineer yang sering diskusi di sebuah forum online, saya menyempatkan diri untuk bertemu dan berbagi cerita.

How’s your life?” tanya saya sambil memesan kopi.

Seperti obrolan-obrolan sebelumnya dari setiap kawan sesama Telecom Engineer dari belahan bumi lain, jawaban yang saya dengar tentang kehidupan mereka selalu sama.

“You know how it is, Bro,” jawabnya sambil membetulkan posisi duduknya.

Sarwed menganggap dirinya adalah ironi. Sebagai pekerja keras yang tangguh, ulet, rajin dan sangat total sampai-sampai tidak tahu kehidupan lain bernama ‘Joy of Life’. Sehari-hari Sarwed hidup berkubang kabel, antena, alat-alat elektronik, serat optik, bergelimpangan di atas kardus-kardus pembungkus modul radio dengan laptop penuh baris-baris code yang kalau dipandangi bisa bikin mual. Sarwed merasa hi-tech, tapi tidak tahu jadual siaran televisi. Mengerti algoritma propagasi gelombang elektromagnetik, tapi sering lupa kalau akhir pekan adalah hari libur kerja. Hafal struktur koneksi perangkat router yang jumlahnya sangat banyak, tapi tidak tahu berapa jumlah mall di kotanya sendiri. Sarwed punya keluarga, tapi merasa menjadi orang asing bagi anak-anaknya.

I’m Telecom Engineer, Man. I have no life.” Katanya santai.

Sarwed juga mengisahkan cerita yang sangat familiar. Tidak boleh ada alasan mereka tidak bisa dihubungi. Mereka adalah baris terdepan keberlangsungan komunikasi modern. Ketika pekerja lain bekerja 7 jam sehari di luar akhir pekan, para Telecom Engineer tetap siaga siang dan malam. Begitu ada masalah dengan jaringan, Telecom Engineer harus segera bergerak menyelesaikannya apapun situasinya. Mereka menyiapkan diri sebagai target caci maki dan hujatan dari para klien yang tidak puas dengan kondisi jaringan, meskipun tidak pernah mendapat kredit apalagi pujian ketika semua berjalan lancar.

Kehidupan mereka penuh dengan angka, grafik, baris-baris script, warna-warni yang keluar dari LED (Light Emitting Diode) yang terpasang di perangkat, merepresentasi alarm dan segala statistik jaringan. Bahasa mereka adalah bahasa protokol, bahasa mesin, bahasa program yang hanya dimengerti oleh sesamanya.

Menurut Sarwed, kawan India saya ini, bekerja sebagai Telecom Engineer sangat menyita kehidupan normalnya.

Sarwed menyeruput kopinya pelan-pelan. Sambil tertawa dia bertanya pada saya, “and how’s your life?” dengan intonasi sedikit mengejek.

Saya tersenyum. Sebagai Telecom Engineer, saya mengerti betul apa yang diceritakan Sarwed tentang dirinya. Saya pernah mengalami periode di mana SMS notifikasi alarm dan telepon yang berdering tengah malam adalah hal paling menakutkan dalam hidup.

Tapi saya tidak akan mengatakan hal yang sama.

Saya bersyukur bekerja di perusahaan yang sangat mengakomodir kepentingan karyawannya. Pertama, pekerjaan seperti yang dilakukan Sarwed tidak terdengar cukup smart buat saya. kedua, ada sisi lain yang sangat istimewa dari pekerjaan ini yang mungkin tidak terlihat oleh Sarwed. Begitu banyak hal yang bisa saya nikmati dengan penuh kebanggaan. Integritas dan antusiasme bisa membawa saya dalam euforia yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya, termasuk Sarwed.

Saya keluarkan album foto. Menunjukkan banyak koleksi foto panoramic horizon bumi yang terpisah oleh langit dengan warna-warna indah yang saya ambil dari beberapa daerah di Indonesia. Foto yang hanya bisa diperoleh bila kita membidik garis bumi dari puncak menara BTS. Sarwed kelihatan tertarik, dari ekspresinya saya yakin dia bahkan tidak pernah mencobanya.

“I should try this sometimes,” selanya.

Saya juga mengisahkan betapa antusiasnya saya mendatangi pulau-pulau lokasi pemancar backbone di lingkar terluar Indonesia bagian utara, hop demi hop tanpa terkecuali dari Manado sampai pulau Miangas. Berbaur dengan masyarakat sekitar berhari-hari -karena memang tidak ada penginapan dan transportasi antar pulau yang cuma sesekali- sambil mengabadikan momen-momennya.

Saya menceritakan betapa menegangkannya menjadi one-man-army di tengah situasi network kritis di lokasi BTS antah berantah sendirian, di mana keputusan kita terhadap network menjadi sangat krusial, dan betapa nikmatnya merasakan kepuasan tiada tara ketika berhasil menyelesaikan sebuah situasi network terburuk, menyelamatkan miliaran rupiah revenue perusahaan.

Telecom Engineers adalah mereka yang menjadikan revolusi teknologi komunikasi sebuah kenyataan. Dan Sarwed adalah orang yang berperan besar dalam revolusi teknologi.

Ada kebanggan tersendiri bekerja sebagai Telecom Engineer di perusahaan yang mengapresiasi setiap pencapaian dan inovasi karyawannya. Detail pekerjaan semakin lama dibuat semakin memudahkan, mengefektifkan waktu, tenaga dan sumber daya. Di samping itu keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga tetap terjaga.

Sarwed, dan para Telecom Engineers lain tidak salah karena bekerja terlalu keras. Mereka mungkin hanya perlu bekerja sedikit lebih cerdas.

Setelah menghabiskan kopi masing-masing, saya berpamitan.

Until we meet again,” kata Sarwed.

Saya mengiyakan, menanti kisah baru yang mungkin akan dibawanya bila bertemu lagi.

2 comments on “I’m Telecom Engineer. I Have No Life

  1. suami saya tukang kabel, krang kring tiap ada gangguan kabel fo putus udah gak aneh lagi.. padahal lagi liburan, bahkan lagi lebaran… belum naik gaji udah 4 tahun… tapi dinikmati saja 😀

Leave a Reply to oRiN Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *