Tim TERRA saat evakuasi di Palu
Blog

Segores Catatan dari Palu #6

30 September 2018 pukul 23:30, tim SAR dan relawan berhasil mengevakuasi sepasang Ibu dan anak setelah 2 hari tertimbun reruntuhan di Perumnas Balaroa. Keduanya berpelukan dalam kondisi terjepit, Separuh badannya terbenam lumpur hingga ke leher, sisanya terhimpit reruntuhan. Dalam proses evakuasi, berkali-kali tim SAR harus terus berusaha membuat korban tetap sadar dengan menepuk-nepuk pundaknya, berkali-kali itu pula korban pingsan. Pada akhirnya, keduanya berhasil dievakuasi meski sayangnya, si Ibu meninggal, namun anaknya, Nurul, 17 tahun, perempuan, selamat dengan kondisi hipotermia akibat terendam lumpur lebih dari 48 jam.

1 Oktober 2018, tim Basarnas kembali berhasil menyelamatkan 1 orang korban dalam kondisi hidup dari hotel Roa-roa. Hotel yang ambruk rata dengan tanah. Korban selamat dengan kondisi tubuh tercabik-cabik penuh luka. Menahan sakit luar biasa selama 3 hari tertimbun reruntuhan yang labil. Bergerak sedikit, reruntuhan semakin menindih. Meski demikian korban, Fitri, 25 tahun, perempuan, akhirnya selamat.

Tim TERRA saat evakuasi di Palu
Tim TERRA saat evakuasi di Palu

4 Oktober 2018, ketika saya dengan tim TERRA bergabung dengan Basarnas di Perumnas Balaroa, kami berbincang dengan koordinator grup Basarnas tentang evakuasi, dan tentang korban-korban hidup yang berhasil diselamatkan. Satu fakta yang menarik perhatian saya adalah dalam kondisi sangat kritis, perempuan bertahan hidup lebih lama dibanding laki-laki.

Seorang arkeolog, Donald Grayson dari University of Washington, menulis di jurnalnya, bahwa perempuan bisa bertahan hidup lebih lama di banding laki-laki dalam kondisi ‘surviving disaster’, kondisi ekstrim paska bencana ketika mati dan bertahan hidup menjadi pilihan tersisa. Dia merujuk pada kejadian tahun 1846, di mana 87 orang (53 laki-laki dan 34 perempuan) terjebak di pegunungan salju California selama 6 bulan (4 bulan di antaranya musim dingin). Tanpa makanan, tanpa pakaian yang layak, tanpa penerangan, apa adanya. Pada akhirnya 30 dari 53 laki-laki tewas, dan hanya 10 dari 34 perempuan yang tewas (Grayson 1990).

Senada dengan Grayson, para peneliti lain juga menemukan hal yang sama. Di Liberia tahun 1800, yang mana tercatat sebagai periode kematian terbesar dalam sejarah di negara itu, perempuan di sana bertahan jauh lebih baik dibanding laki-lakinya. Irlandia tahun 1840, saat bencana kelaparan melanda, hal yang sama terjadi. Begitu juga di Swedia dan Ukraina di abad 18 dan 19 saat wabah penyakit menyerang, para perempuan menjadi yang bertahan hidup lebih lama dibanding laki-laki (Zarulli and Jones 2018).

Fakta-fakta ini semakin menegaskan betapa perempuan makhluk yang spesial. Ciptaan Tuhan yang tidak hanya mulia, lembut, tapi juga kuat. Kuat dalam arti sebenarnya. Kuat sebagaimana anda memahami kata kuat. Lalu bagaimana mungkin kita, kaum lelaki, merasa paling superior di hadapan kaum perempuan?

Saya merasa tersentil. Di tengah kejadian dahsyat ini, sungguh perempuan muncul mendemonstrasikan kekuatan sesungguhnya. Perempuan tidak melulu tentang kisah putri-putrian Disney pengantar tidur, yang rapuh gemulai menanti pangeran tampannya. Perempuan adalah representasi kekuatan sebenarnya.

Dalam hati saya berbisik pada diri sendiri, “ayolah, singkirkan egomu, terimalah kenyataan bahwa kau hanya seorang lelaki. Belajarlah dari Nurul dan Fitri tentang kesabaran, daya juang dan semangat pantang menyerah.

Kalau pun itu sulit, percayalah, sungguh hal yang sama juga bisa kau dapati pada sosok perempuanmu: Ibu dan Istrimu.

Pulanglah, tatap lekat wajah Ibumu, peluk dan rangkul beliau, dan rasakan, dari sana terpancar kekuatan dahsyat tak terbatas. Pulanglah, dekap erat tubuh Istrimu, di situ kau temukan kekuatan ajaib penuh cinta. Pulanglah, mungkin esok kita tidak pernah lagi sempat melakukannya.”

#PALUBANGKIT

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *